Posts

Showing posts from January, 2014

Sebuah Tulisan

Malam ini, ku buatkan tulisan Aku tak tahu menamakannya apa Tentang aku yang masih disini, mencarimu Tentang asa yang terbelenggu masa Aku mencarimu diantara rinai hujan Tapi tak satupun tetesnya mengiyakan Aku mencarimu disetiap lembaran buku Aksaranya, malah memilih diam, beku Aku mencarimu disetiap jalan setapak Sedikitpun tak ada jejak Di lautan, aku mencoba menyelam Aku malah terseret semakin dalam Namun, jika esok aku masih tak menemukanmu Dan sempat kau baca tulisan ini Ketahuilah, aku masih disini Seorang yang tak lelah mencarimu Jika esok aku tak menemukanmu Hanya perlu kau tahu Aku masih disini Tak henti berharap akanmu Dan jika aku telah menemukanmu Aku tak akan berkata, kalau aku mencarimu Takkan ku sampaikan padamu Kalau rindu telah membeku Kalau sayang telah semakin renta Kalau cinta telah memenjarakan jiwa Dan raga telah menyatu dengan bumi Namun.. Jiwa akan terus mencintaimu

Mari Berpura - pura

Ketika melihat matamu, aku tak merasakan apa –apa kau tersenyum ke arahku, pipiku tak memerah muda Mendengar suaramu, tak ada kedamaian yang tercipta Menggenggam jemarimu, diriku merasa binasa Ketika kau berada di dekatku, degup jantungku tak berubah sama sekali Tak ada kabarmu, aku tak merasakan khawatir Di mimpiku, tak sekalipun ada kau disana Di hatiku, kau hanya sebuah kegelapan. Dan saat kau memilih untuk pergi Tak ada elegi yang mengisi hari Saat  meminta menunggumu kembali Aku merasa jenuh dan tidak peduli Mari berpura – pura tentang rasa, perihal rindu Karena jujurku.. Hanya membuat dunia menjadi sendu Ya, mari berpura – pura saja.

Surat dalam Sebuah Kotak Kayu

“Argaaaaa!!!,” Teriak seorang perempuan sambil mengetuk pintu kamarnya beberapa kali. “Iya ma.. kenapa sampai teriak – teriak segala sih?” Ia membuka pintu dengan raut wajah yang menandakan baru saja bangun. “Hari ini kan kamu janji akan bersihkan gudang. Kamu ingat kan?” ibunya berusaha mengingatkan Arga. “Sepagi ini Ma?” Arga yang sebenarnya masih mengantuk mencoba mengulur waktu agar pekerjaan itu, bisa dikerjaan setidaknya siang nanti. “Hitung – hitung olahraga pagi.” Katanya dengan disertai senyum khas seorang ibu. “Iyaa.. iyaa..” Jawab Arga dan segera bergegas ke kamar kecil untuk mencuci muka dan bersiap untuk membersihkan gudang. Matahari, masih malu menampakkan diri dipojokan.Tak seperti kemarin, cuaca pagi itu memang lagi cerah – cerahnya. Udaranya yang segar, walaupun Arga dan keluarganya tinggal di daerah perkotaan.  Mungkin karena kendaraan yang lalu – lalang belum lagi ramai. Dengan semangat Minggu pagi, Arga mulai memasuki gudang. Matanya mulai mem...

Cinta (?)

Kala itu, sedang hujan. Dan aku sedang berteduh di sebuah gedung dekat sebuah pasar. Sambil menunggu hujan reda, aku mencoba bertanya tentang perihal Cinta kepada orang – orang yang lalu – lalang di depanku. Seorang lelaki tua dengan tongkat menghampiriku, ”Nak, Cinta itu ketika kau berjalan tertatih karena kedua kakimu tak lagi mampu menopang, kemudian kau mengambil sebatang kayu dan kayu itu membantumu kembali berjalan tegap. Itulah Cinta, Nak.” Seorang tuna wisma yang berada tak jauh dariku, dengan air muka yang sendu ia berkata, “ Cinta itu, membuatmu dari kuat menjadi lemah, itu aku warisi dari manusia pertama.” Seorang wanita dengan pakaian yang seksi, dengan bibirnya yang merah kelam ia berkata, “Cinta itu, airmata mata yang jatuh dari matamu. Dan airmata itu, memaksamu berbuat sesuatu untuk perutmu.” Seeorang perempuan dengan senyum yang merekah dibibirnya, “Cinta itu, laksana bunga – bunga musim semi, yang mekar bersama kicauan burung. Cinta itu, sebuah nyanyi...

KALA SENJA

Senja itu. Bumi, sedang duduk di kursi sebuah taman dekat pantai sambil menikmati pemandangan tenggelamnya matahari. Bumi memang suka saat senja. Di temani lagu “ Nyayian Semesta” milik band beraliran folk asal bali “Dialog Dini Hari”, yang ter shuffle pada playlistnya, dan segelas kopi hangat yang tadi dipesannya pada warung kopi dekat taman. Angannya kembali menerawang rangkaian kejadian beberapa bulan yang lalu, tentang seorang perempuan bernama Yuna. *** 3 bulan yang lalu.. Yuna, yang sudah sejak 12 bulan yang lalu berbeda kota dengan Bumi, datang dengan membawa urusan kerjaan. Di sela – sela kesibukannya, ia  mencari waktu luang untuk bertemu kekasihnya. Waktu itu, malam minggu. Seperti  lazimnya pasangan kekasih, mereka berdua sedang kencan di sebuah restoran cepat saji, di kota Bumi tinggal. Saat itu Bumi mengenakan kemeja berwarna hitam, di padu celana jeans dengan warna yang senada. Sedangkan Yuna, dengan pakaian yang berwarna biru muda. Setelah mere...

SEMALAM

Sayangku, semalam aku sendirian. Dan kesendirianku; laksana pesakitan yang terjebak dalam gua. Semalam aku adalah sepatah kata yang tak sempat terucap dalam pikiran semesta. Membeku dalam genggaman tangan sang waktu yang dingin. Sayangku, semalam aku sendirian. Dan kesendirianku; bagai sebatang kaktus di tengah gurun pasir. Semalam aku adalah sebuah pena yang dibuang penulis karena kehabisan tinta. Mengapung, terseret gelombang lautan. Sayangku, pagi ini, aku menjelma menjadi irama yang bersenandung melalui gesekan daun dan embun. Walaupun tak berlangsung lama. Setidaknya, ada sekilas pandang, sebuah desakan, hangat pelukan, dan sepatah kata. Tidak seperti semalam saat aku sendirian.