Posts

Showing posts from December, 2013

Suatu Sore di Bulan Desember

Suatu sore di bulan Desember, dan hujan sedang lebat. Seorang lelaki muda di bawah sebuah pohon hujan yang rimbun, di pinggir sebuah jalan setapak, sedang berteduh. Ia duduk termenung, menerawang. Ia tak tahu, Kenapa hujan menuntunnya untuk selalu merenung? kenapa hujan selalu membuatnya menerawang? Kenapa hujan selalu menghadirkan kenangan? Ia melayang – layang dalam semesta pikirnya. Hujan semakin lebat, lelaki muda itu belum beranjak dari bawah pohon hujan tempatnya berteduh di pinggir sebuah jalan setapak. Di benaknya, begitu banyak hal yang menguras energinya untuk berpikir, merenung. Semakin tenggelam dalam renungan tetes – tetes hujan. Menghadirkan kenangan. Tapi entah mengapa, yang lebih banyak menerima porsi di kepalanya hanya tentang seorang perempuan, yang dia sendiri tidak tahu sejak kapan perempuan itu telah mendekam disana. Perempuan yang pertama kali dilihatnya beberapa bulan yang  lalu, diwaktu sore dan setapak yang sama. Ia sengaja memiih tempat berteduh pada s...

POHON

Berkisar 126 hari yang lalu Kau tanam benih melalui sorotmu di mataku Tahukah kau? Kini benih itu telah menjadi pohon, berakar di hatiku Daunnya rimbun, berwarna biru senada warna lautmu Rantingnya, bagaikan jemarimu Batangnya tegak lurus,  seakan meminta menopang  langitmu Inginkah kau tahu? Sebelum menjadi pohon, benih yang kau tanam itu Saat musim dingin bertamu, tak mau tumbuh, sempat menjadi kaku Padahal telah aku sirami berjuta tetes rindu Kenapa? Apakah karena Bumi sedang beku? Atau, apakah karena aku salah dalam menaruh benih itu? Tapi, saat musim semi tiba, merekahlah senyumku Sebab benih yang berakar di hatiku, kini muncul dengan malu Mengintip pada bumi, menghiasi semestaku Ahh, aku saja sampai tersipu. Sebelum musim semi berakhir sendu Benih dan bumi semakin menjadi satu Mempertegas diri menjadi pohon bertahta kamu Tapi, sebantar lagi musim panas dan musim gugur menjemputmu Ku harap akarnya tetap kuat, menjalar pada ...

TANYA PADA SEMESTA PIKIRMU

Dengarkan.. Kau mungkin punya banyak tanya tentangku Tentang anak panah yang belum terlepas dari panahnya Tentang anak sungai yang belum bermuara di lautan Dengarkan.. Kau mungkin punya banyak tanya tentangku Tentang gerak tubuh yang terlalu banyak mengisyrakatkan sesuatu Tentang bibir yang tak terlalu cair untuk mangatup dan menguapkan kata Dengarkan.. Aku tahu, tanyamu kini tak muat lagi pada semesta pikirmu Mendobrak setiap batas dinding – dinding kepalamu Meminta dibukakan pintu agar tanyamu segera tertiup, melayang bersama angin Aku tahu itu.. Maka mohon dengarkan aku Cukup dengarkan aku pada setiap degup jantungmu Yang bersama udara yang kau hirup ada banyak rindu yang ku titip buatmu Mohon dengarkan aku Cukup dengarkan aku pada setiap gemericik tetes - tetes hujan Menggenang pada bejana rasamu Yang menampung lantunan doa yang ku kirim untukmu Jadi, dengarkan.. Jawabmu, tak lama lagi akan segera terjawab Entah saat pagi kal...

Tanya (?)

Pagi telah mengintip Telah siap berganti tugas dengan malam Tapi tanya tentangmu, masih tetap mengendap Bersama rindu yang sedari tadi bergugam. Tanyamu yang mana akan lebih dulu ku jawab? Yang di kepalaku? Ataukah yang di hatiku? Itu juga butuh sebuah jawab Sembari mencoba mencari pasti Malah lelapmu yang ku dapati Sedang terbang, menerobos semak - semak mimpi Dengan aroma suara - suara lirih Ku urungkan tanyaku, Bukan karena aku malu denganmu Tapi aku tak ingin merusak mimpi dan tidurmu. Aku sedang mencari jawab, bukan mengganggu Pagi semakin mempertegas diri Tapi tanyaku, masih tetap menjadi sebuah tanya Berdebu, terkena bias cakrawala Jika nanti kau telah kembali dari mimpimu Dari setumpuk tanya yang ku punya Ku pilih satu menjadi pembuka Adakah tanyamu juga tentangku?

Perempuan dan Anak Hurufnya

Di sebuah pelataran sore itu Nampak perempuan bersandar pada tiang sebuah gedung Dengan tangan yang menggenggam sebuah buku. Menyelami akal, sementara hatinya menerawang. Sorot matanya tajam, tertuju pada anak - anak huruf yang berbaris rapi di lembaran. Mencoba mengasuhnya hingga menjadi kalimat - kalimat dewasa, dan berharap nantinya dapat bercerita tentang kebenaran. Sesekali sorotnya dicuri oleh orang - orang yang lalu lalang Bagai ilalang yang tertiup angin barat dan kadang juga angin timur. Serasa terusik oleh suara - suara bising di sekitar. Di lembaran, anak hurufnya merengek meminta makan yang berasal dari jiwanya. Sedang, anak huruf yang lain menunggu untuk diasuhya. Bibir tipis nan lembut itu segera bernyanyi, mencoba menghibur anak - anak hurufnya yang sedari tadi ditinggalkannya. Perempuan itu memang tahu bagaimana mengubah tangis mejadi tawa. Perempuan itu juga tahu bagaimana membuat hidup menjadi lebih hidup Dari arah punggungnya, aku coba me...

KATAMU, KATAKU TENTANG HUJAN

Katamu, ada nyanyian dalam hujan. Katamu, ada rindu pada tiap tetesnya. Serupa rindu jemari akan pena yang menjadikannya cerita. Bagaikan rindu malam akan bulan yang buatnya bercahaya. Kataku, ada kehangatan dalam hujan. Kataku, ada peluk pada tiap tetesnya. Serupa peluk pohon pada bumi yang menjadikannya tumbuh. Bagaikan peluk kekasih yang berjarak dan akhirnya bertemu. Katamu, Kataku, kini saling memaknai hujan. Kataku, Katamu, saling berbagi cerita, berbagi kesan. Kataku memeluk, Katamu merindu. Kataku erat, Katamu hangat. Katamu bertamu, Kataku menjamu. Kataku, Katamu saling memadu. Katamu dan Kataku. Hujanmu dan Hujanku. Rindumu, dan Pelukku. Kamu dan Aku. Telah menuju akhir tetes hujan. Yang kelak akan KITA namakan pelangi. *saat hujan sedang derasnya turun membasahi bumi*.