Posts

Showing posts from March, 2018

Kamus Kecil Karya Joko Pinurbo

Saya dibesarkan oleh bahasa Indonesia yang pintar dan lucu walau kadang rumit dan membingungkan. Ia mengajari saya cara mengarang ilmu sehingga saya tahu bahwa sumber segala kisah adalah kasih; bahwa ingin berawal dari angan; bahwa ibu tak pernah kehilangan iba; bahwa segala yang baik akan berbiak; bahwa orang ramah tidak mudah marah; bahwa seorang bintang harus tahan banting; bahwa terlampau paham bisa berakibat hampa; bahwa orang lebih takut kepada hantu ketimbang kepada tuhan; bahwa pemurung tidak pernah merasa gembira, sedangkan pemulung tidak pelnah melasa gembila; bahwa manusia belajar cinta dari monyet; bahwa orang putus asa suka memanggil asu. Bahasa Indonesiaku yang gundah membawaku ke sebuah paragraf yang tersusun di atas tubuhmu. Malam merangkai kita menjadi kalimat majemuk bertingkat yang panjang di mana kau induk kalimat dan aku anak kalimat. ketika induk kalimat bilang pulang, anak kalimat paham bahwa pulang adalah masuk ke dalam palung. Ruang penuh raung. segala kenan...

kita, dua orang yang sedang bicara dalam diam..

kita, dua orang yang sedang bicara dalam diam. tak ada kata, hanya suara nafas. hanya degup yang menggetarkan.  kita, dua orang yang sedang bicara dalam diam. hanya tatap dan kemudian tersipu. memerah muda, kita, dua orang yang sedang bicara dalam diam, sebab dalam cinta kita memang tak perlu butuh banyak bersuara.  kita, dua orang yang sedang bicara dalam diam, telah saling memaafkan ketika salah satu dari kita punya salah. kita, dua orang yang sedang bicara dalam diam, tanpa kata, hanya isak ketika akhirnya kita memilih berpisah.

Ketika Senja Tak Lagi Sama..

Laila, perempuan penggila senja itu tak pernah sekalipun melewatkan menikmati fenomena matahari tenggelam kesukaannya. pendarnya yang jingga, matari yang perlahan turun ke peraduan, sepoi semilir hembusan angin, suansana yang menentramkan, dan Laila adalah senja. Titik. hingga tiba suatu senja. saat itu, langit sedang dirundung mendung. matari tak menampakkan diri. awan dengan segala kekuatan menyembunyikannya. jingga tetiba berubah kelam. “kenapa, Rul?!” Laila memekik ke arah Asrul. “mau bagaimana lagi?, aku sudah terlalu letih untuk terus kucing-kucingan seperti ini”. “beri aku waktu lagi, segera akan aku jelaskan”. “sudah cukup, Laila. aku telah berkorban segalanya untuk kamu. termasuk meninggalkan kekasihku. dan kau, masih saja mengulur waktu. cukup.” “Laila, kita akhiri saja semuanya”. tangis Laila akhirnya mengiringi kepergian Asrul senja itu. menyisakan bekas sayatan yang dalam pada hatinya. sejak awal mereka telah menduga akan berakhir seperti ini. * “Lailaaa...