Posts

Kamus Kecil Karya Joko Pinurbo

Saya dibesarkan oleh bahasa Indonesia yang pintar dan lucu walau kadang rumit dan membingungkan. Ia mengajari saya cara mengarang ilmu sehingga saya tahu bahwa sumber segala kisah adalah kasih; bahwa ingin berawal dari angan; bahwa ibu tak pernah kehilangan iba; bahwa segala yang baik akan berbiak; bahwa orang ramah tidak mudah marah; bahwa seorang bintang harus tahan banting; bahwa terlampau paham bisa berakibat hampa; bahwa orang lebih takut kepada hantu ketimbang kepada tuhan; bahwa pemurung tidak pernah merasa gembira, sedangkan pemulung tidak pelnah melasa gembila; bahwa manusia belajar cinta dari monyet; bahwa orang putus asa suka memanggil asu. Bahasa Indonesiaku yang gundah membawaku ke sebuah paragraf yang tersusun di atas tubuhmu. Malam merangkai kita menjadi kalimat majemuk bertingkat yang panjang di mana kau induk kalimat dan aku anak kalimat. ketika induk kalimat bilang pulang, anak kalimat paham bahwa pulang adalah masuk ke dalam palung. Ruang penuh raung. segala kenan...

kita, dua orang yang sedang bicara dalam diam..

kita, dua orang yang sedang bicara dalam diam. tak ada kata, hanya suara nafas. hanya degup yang menggetarkan.  kita, dua orang yang sedang bicara dalam diam. hanya tatap dan kemudian tersipu. memerah muda, kita, dua orang yang sedang bicara dalam diam, sebab dalam cinta kita memang tak perlu butuh banyak bersuara.  kita, dua orang yang sedang bicara dalam diam, telah saling memaafkan ketika salah satu dari kita punya salah. kita, dua orang yang sedang bicara dalam diam, tanpa kata, hanya isak ketika akhirnya kita memilih berpisah.

Ketika Senja Tak Lagi Sama..

Laila, perempuan penggila senja itu tak pernah sekalipun melewatkan menikmati fenomena matahari tenggelam kesukaannya. pendarnya yang jingga, matari yang perlahan turun ke peraduan, sepoi semilir hembusan angin, suansana yang menentramkan, dan Laila adalah senja. Titik. hingga tiba suatu senja. saat itu, langit sedang dirundung mendung. matari tak menampakkan diri. awan dengan segala kekuatan menyembunyikannya. jingga tetiba berubah kelam. “kenapa, Rul?!” Laila memekik ke arah Asrul. “mau bagaimana lagi?, aku sudah terlalu letih untuk terus kucing-kucingan seperti ini”. “beri aku waktu lagi, segera akan aku jelaskan”. “sudah cukup, Laila. aku telah berkorban segalanya untuk kamu. termasuk meninggalkan kekasihku. dan kau, masih saja mengulur waktu. cukup.” “Laila, kita akhiri saja semuanya”. tangis Laila akhirnya mengiringi kepergian Asrul senja itu. menyisakan bekas sayatan yang dalam pada hatinya. sejak awal mereka telah menduga akan berakhir seperti ini. * “Lailaaa...

Unta

Pepatah arab mengatakan bahwa jiwa berjalan dengan kecepatan seekor unta. Sementara kita terus saja padat dengan segala akitivitas sehari hari, jiwa kita, sang singgasana hati mengekor dengan nostalgik di belakang, terbebani berat memori.  Kalau tiap urusan cinta menambah sepotong beban pada muatan sang unta, maka kita bisa memprediksi bahwa jiwa akan melambat sesuai dengan signifikansi beban cinta. Bila akhirnya sang binatang bisa mengabaikan dan melumat semua kenangannya, maka ia nyaris membunuh untanya. Aku sempat punya keinginan untuk menghabiskan waktuku bersama kenangan – kenanganku. Tenggelam di dalamnya. Aku rela ditarik pusaran waktu yang lalu dan mendekam disana, selamanya. Melupakan masa kekinian. Karena masa kini tidak punya apa – apa untukku, masa yang lalu jadi satu – satunya tempat yang bisa ku tinggali. Apa guna masa kini jika telah kehilangan diri kita? Esensi dari diri kita lenyap? Aku sering berhalusinasi bahwa perpisahan itu tak pernah terjadi, ...

Sebuah Tulisan

Malam ini, ku buatkan tulisan Aku tak tahu menamakannya apa Tentang aku yang masih disini, mencarimu Tentang asa yang terbelenggu masa Aku mencarimu diantara rinai hujan Tapi tak satupun tetesnya mengiyakan Aku mencarimu disetiap lembaran buku Aksaranya, malah memilih diam, beku Aku mencarimu disetiap jalan setapak Sedikitpun tak ada jejak Di lautan, aku mencoba menyelam Aku malah terseret semakin dalam Namun, jika esok aku masih tak menemukanmu Dan sempat kau baca tulisan ini Ketahuilah, aku masih disini Seorang yang tak lelah mencarimu Jika esok aku tak menemukanmu Hanya perlu kau tahu Aku masih disini Tak henti berharap akanmu Dan jika aku telah menemukanmu Aku tak akan berkata, kalau aku mencarimu Takkan ku sampaikan padamu Kalau rindu telah membeku Kalau sayang telah semakin renta Kalau cinta telah memenjarakan jiwa Dan raga telah menyatu dengan bumi Namun.. Jiwa akan terus mencintaimu

Mari Berpura - pura

Ketika melihat matamu, aku tak merasakan apa –apa kau tersenyum ke arahku, pipiku tak memerah muda Mendengar suaramu, tak ada kedamaian yang tercipta Menggenggam jemarimu, diriku merasa binasa Ketika kau berada di dekatku, degup jantungku tak berubah sama sekali Tak ada kabarmu, aku tak merasakan khawatir Di mimpiku, tak sekalipun ada kau disana Di hatiku, kau hanya sebuah kegelapan. Dan saat kau memilih untuk pergi Tak ada elegi yang mengisi hari Saat  meminta menunggumu kembali Aku merasa jenuh dan tidak peduli Mari berpura – pura tentang rasa, perihal rindu Karena jujurku.. Hanya membuat dunia menjadi sendu Ya, mari berpura – pura saja.

Surat dalam Sebuah Kotak Kayu

“Argaaaaa!!!,” Teriak seorang perempuan sambil mengetuk pintu kamarnya beberapa kali. “Iya ma.. kenapa sampai teriak – teriak segala sih?” Ia membuka pintu dengan raut wajah yang menandakan baru saja bangun. “Hari ini kan kamu janji akan bersihkan gudang. Kamu ingat kan?” ibunya berusaha mengingatkan Arga. “Sepagi ini Ma?” Arga yang sebenarnya masih mengantuk mencoba mengulur waktu agar pekerjaan itu, bisa dikerjaan setidaknya siang nanti. “Hitung – hitung olahraga pagi.” Katanya dengan disertai senyum khas seorang ibu. “Iyaa.. iyaa..” Jawab Arga dan segera bergegas ke kamar kecil untuk mencuci muka dan bersiap untuk membersihkan gudang. Matahari, masih malu menampakkan diri dipojokan.Tak seperti kemarin, cuaca pagi itu memang lagi cerah – cerahnya. Udaranya yang segar, walaupun Arga dan keluarganya tinggal di daerah perkotaan.  Mungkin karena kendaraan yang lalu – lalang belum lagi ramai. Dengan semangat Minggu pagi, Arga mulai memasuki gudang. Matanya mulai mem...