Surat dalam Sebuah Kotak Kayu

“Argaaaaa!!!,” Teriak seorang perempuan sambil mengetuk pintu kamarnya beberapa kali.
“Iya ma.. kenapa sampai teriak – teriak segala sih?” Ia membuka pintu dengan raut wajah yang menandakan baru saja bangun.
“Hari ini kan kamu janji akan bersihkan gudang. Kamu ingat kan?” ibunya berusaha mengingatkan Arga.
“Sepagi ini Ma?” Arga yang sebenarnya masih mengantuk mencoba mengulur waktu agar pekerjaan itu, bisa dikerjaan setidaknya siang nanti.
“Hitung – hitung olahraga pagi.” Katanya dengan disertai senyum khas seorang ibu.
“Iyaa.. iyaa..” Jawab Arga dan segera bergegas ke kamar kecil untuk mencuci muka dan bersiap untuk membersihkan gudang.

Matahari, masih malu menampakkan diri dipojokan.Tak seperti kemarin, cuaca pagi itu memang lagi cerah – cerahnya. Udaranya yang segar, walaupun Arga dan keluarganya tinggal di daerah perkotaan.  Mungkin karena kendaraan yang lalu – lalang belum lagi ramai.

Dengan semangat Minggu pagi, Arga mulai memasuki gudang. Matanya mulai memperhatikan segala sudut ruangan yang menurut sebagian orang adalah “mesin waktu” itu. Tapi, terlalu banyaknya barang dalam gudang. Ia tak tahu harus memulai darimana. Setelah beberapa menit berpikir dan sekali lagi memperhatikan seisi gudang. Akhirnya, Ia mengambil keputusan untuk memulai dari sudut kanan, dekat pintu masuk gudang.

Arga mulai pekerjaannya. Ia meraih satu  - persatu barang dan mulai merapikannya. Mulai dari layangan yang bergambar dirinya, yang ia buat sendiri waktu masih duduk di kelas 3 SD dulu. Walaupun saat ditanya teman – temannya nya, ia tidak mengakui kalau gambar dalam layangan itu adalah dirinya. Ada juga sebuah Jam dinding yang angka “2”nya telah hilang, entah kemana. Jam yang biasa ia perhatikan saat menunggu waktu berbuka puasa dulu. Arga ingat benar jam dinding itu, karena ia tak hentinya memperhatikan jam dinding itu, ketika masih menggantung di ruang makan rumahnya. Bola yang menjadi hadiah ulang tahunnya yang kesembilan, berada tidak jauh dari jam itu. Setiap benda yang Arga temui di gudang itu, selalu menceritakan tentang kenangannya. Gudang memang sebuah mesin waktu, katanya dalam hati.

Setelah merapikan bagian kanan gudang. Ia berpindah ke bagian tengah. Di lihatnya kardus yang terisi penuh oleh buku – buku catatannya sewaktu masih SMP. Dibukanya satu persatu buku tersebut, lembaran demi lembaran, dan diakhiri dengan gelak tawa. “Benar kata temanku dulu. Tulisanku, memang tidak bagus.” Katanya sambil tertawa terbahak – bahak. Dalam kardus itu juga, ia temukan buku catatan pribadinya. Cerita tentang kesehariannya di sekolah, tentang teman – temannya, tentang kenakalannya, tentang petualangannya, tentang “Pak Anton” guru yang dibencinya, karena keseringannya memarahi siswa. Yang akhirnya beberapa tahun kemudian ia baru sadar, bahwa itu demi kebaikannya. “Terima kasih, pak.” Arga dalam hati. Bagian tengah gudang dirapikannya hanya dalam beberapa menit, karena barang yang ada di bagian tengah memang tidaklah terlalu banyak. Dan melangkahlah Arga ke bagian kiri gudang, bagian terakhir yang akan ia rapikan.

Hari semakin pagi. Sebelum Arga melanjutkan pekerjaannya, ia terlebih dahulu beristirahat sejenak, rehat sekejap, mengumpulkan kembali tenaganya yang telah mulai terkuras, dengan segelas susu hangat dan kue donat buatan Ibunya, yang baru saja disimpannya di sebuah meja dekat pintu masuk. Melahap habis 2 buah kue dan meneguk habis segelas susu, Arga siap melanjutkan tugasnya.

Barang di bagian kiri gudang, tidak kalah banyaknya dari bagian kanan gudang. Di rapikannya satu  - persatu barang tersebut. Mulai dari Sebuah TV layar hitam putih, sepatu – sepatu bekas, beberapa mainan sewaktu ia masih kecil dulu. Di dekat tumpukan mainan itu, ada sebuah foto berukuran lumayan besar, yang bergambar pemain sepak bola jagoannya “Thierry Henry” yang mengenakan jersey Arsenal. Arga memang penggila bola. Kemudian, Arga  tiba – tiba tersentak, karena tidak jauh dari foto itu, ia temukan sebuah  kotak kayu. Arga ingat benar kotak kayu itu. Kotak kayu yang menjadi tempatnya menyimpan surat. Surat buat seorang perempuan. Perempuan bernama Ainun. Perempuan yang  berhasil membuatnya jatuh pada genggaman cinta.

“Kenapa bisa ada disini?” Arga bertanya pada dirinya sendiri sambil berusaha mengingat.
“Seingatku surat ini, aku simpan dalam lemari dikamarku.” Ia masih berusaha mendapat ingatannya.
“Ahh, sudahlaah..” katanya sebelum mulai membuka kotak kayu yang berisi kumpulan surat cinta buat perempuannya tersebut.

Dibukanya kotak kayu itu dengan perlahan. Kotak kayu itu, berisi 12 pucuk surat cinta buat Ainun. Arga memang tak pernah menyampaikan satupun surat cinta itu kepada Ainun. Waktu itu, Arga tidak berani memberikan setiap surat yang ia tulis pada sang perempuan. Setelah ia menulis satu buah surat untuk Ainun dan berusaha meyakinkan diri untuk memberikannya, keesokan harinya, pasti hanya berujung pada kotak kayu itu. dan terus berulang hingga menciptakan 12 buah pucuk surat. Arga memang seorang pemalu, walaupun itu masalah hatinya.

Keduabelas pucuk surat itu, masing – masing terbungkus sampul berwarna biru muda. Di ikat oleh pita berwarna yang sama. Dibukanya ikatan pita yang menyatukan semua surat itu, dan mengambil sebuah dari keduabelas buah surat dan kemudian membacanya. Angannya kembali menerawang tentang perempuan bernama Ainun tersebut.

Isi suratnya seperti ini :

***

Kedatangan surat ini mungkin sedikit mengagetkanmu. Tapi menurutku, hanya ini jalan aku bisa berkomunikasi denganmu. Maaf atas kelancangan ini.

Hari ini, hari dimana aku melihatmu untuk kedua kalinya .Yang pertama, saat kita berpapasan hari selasa yang lalu. Kau sedang berjalan dari kantin bersama kedua temanmu, dan aku sedang berjalan ke arah kantin sendirian. Hari ini juga, adalah hari dimana aku telah mengetahui namamu. Namamu Ainun kan? Setidaknya nama itu yang kudengar saat seorang teman memanggilmu, dan kau menoleh dengan senyum yang merekah di bibirmu. Aku ingat sekali kejadian itu. Karena kejadian itu, berhasil membawaku pada khayal hingga aku menulis surat ini.

Ainun..
Akan ku perkenalkan diriku. Namaku Arga. Mungkin kau tidak pernah menyadari keberadaanku, tapi tidak sebaliknya. Aku, selalu berharap melihatmu, memperhatikanmu, walupun itu aku sering lakukan dari kejauhan. Pasti kau bertanya mengapa dan dimana aku sering melihatmu? Ainun, kita masih satu fakultas, dan masih satu kampus. Setidaknya hal itu yang membuat kita satu hingga saat ini.

Ainun..
Aku berharap kita bisa bertemu lagi. untuk ketiga kalinya, dan berberapa pertemuan lagi. Bertemu sebenar – benarnya bertemu. Mencipta percakapan, saling mengenal lebih jauh, dan melihat lebih dekat senyum itu.

Ainun..
Jangan kaget dengan kedatangan surat ini yah?

Dari Arga untuk Ainun

***

Arga, setalah mebaca suratnya yang berkisar 3 tahun yang lalu itu, kembali terbayang wajah Ainun. Rindunya tidak bisa ia bendung. Walaupun waktu selama ini berusaha menguburnya dalam – dalam. Tak kuasa menahan rindunya pada Ainun, diraihnya kembali sebuah surat yang berada di kotak kayu tersebut. Kali ini, ia mengambil secara acak dan kemudian kembali membacanya.

Isi suratnya seperti ini :

***

 Ainun..
Surat – suratku yang sebelumnya belum berani aku kirim. Ku harap seiring dengan suratku yang ke tujuh ini, keberanian itu akan muncul. Ya, Ini suratku yang ke tujuh buat kamu, semenjak kita mulai berkenalan beberapa minggu yang lalu. Walaupun tanpa rencana sebelumnya. Takdir memang telah menggariskan peristiwa itu. Suaramu kala itu, masih terngiang jelas ditelingaku hingga kini. Membuat rumahnya sendiri dan menetap disana. Kita memang tak sempat saling berjabat tangan, tapi dari suara itu, aku bisa merasakan lembut jemarimu. Ingatkah kau? Itu percakapan pertama kita. Aku tak bisa tidur dibuatnya.

Ainun..
Tahukah kau? Perasaanku kini, semakin dalam. Menenggelamku pada lautan pesonamu. Aku sempat merasa telah memlikimu, merasakan cemburu saat aku melihatmu duduk berdua dengan seorang pria, yang belakangan ku tahu kalau pria itu adalah mantan kekasihmu. Aku terbakar waktu itu. Tapi, akhirnya ku sadari keegoisanku. Aku bukan siapa – siapa. Tapi ku harap nantinya kan menjadi sesiapa buatmu.

Ainun..
Tahukah kau? Sebelum aku menulis surat ini, aku telah mebuatkanmu sebuah puisi. Aku mencoba menulis puisi sekarang. Karena saat aku menulis puisi, aku merasa semakin dekat denganmu. Judulnya “CAHAYA”. Itu puisi pertamaku buatmu. Saat aku bertemu denganmu lagi nanti, aku akan mambacakannya untukmu.

Ainun..
Aku semakin dalam sekarang..
Dari Arga untuk Ainun

***

Matahari semakin meninggi. Waktu yang Arga harusnya gunakan untuk merapikan gudang, ia gunakan menggali kenangannya bersama Ainun. Dan tanpa sadar, ia telah meraih kembali surat yang lain dan kembali membacanya. Terbawa arus yang dicipta sungai kerinduan.

***

Ainun..
Sudah dua surat yang hanya bermuara pada kotak kayuku. Aku masih belum berani memberikannya. Alasanku sederhana, setiap aku melihatmu, jantung ini degupnya lebih cepat dari biasanya. Aku tak tahu mengapa. Dan diwaktu yang sama aku bisa merasakan malu menyeretku bersamanya dan memenjarakanku. Semoga suratku yang ketiga ini bisa menjadi kunci pembebas penjara rasa malu itu.

Ainun..
Maafkan aku. Tanpa sepengetahuanmu, aku telah mencari tahu segala apapun tentangmu. Kamu suka menulis kan? Aku sudah membaca semua tulisanmu. Puisi, cerpen, sesuatu yang kau anggap absurd, semuanya. Tulisanmu seakan berbicara denganku. Kau punya bakat dalam hal itu. Jika impianmu menjadi seorang penulis, aku yakin kamu bisa menjadi apa yang kau imipikan itu. Dari seorang temanmu, aku mengetahui kalau kau ternyata suka laut. Laut memang selalu punya ceritanya sendiri. Untuk saat ini, hanya hal itu yang membuatku merasa dekat denganmu, sangat dekat. Pernah sekali aku  ke laut hanya untuk mencoba menyapamu dari hal – hal yang kamu sukai. Aku gila? Yah, aku memang gila karenamu saat ini.

Ainun..
Ku harap engkau tidak risih dengan hal ini.

Dari Arga untuk Ainun

***

Setelah membaca 3 buah surat itu, yang seharusnya mengobati kerinduannya kepada Ainun. Arga malah semakin tenggelam dalam kerinduan. Semakin terbawa arus sungai yang entah sampai kapan akan bermuara. Diraihnya kembali satu buah surat itu, membukanya perlahan dan..

***

Ainun..
Sekarang aku merasa orang yang paling bahagia di dunia. Aku tahu hal ini sedikit berlebihan. Tapi itu yang aku rasakan. Hari ini, kau tersenyum ke arahku. Kau ingat kan saat kita berpapasan tadi? Semoga surat ini bisa mengingatkan. Kemeja birumu, sangat serasi dengan rok yang berwarna sama yang kau kenakan. Tahukah, kau tidak perlu sayap untuk disebut bidadari. Senyummu berbeda kali ini, lebih manis dari biasanya. Aku yakin siapapun yang melihatnya akan merasa bahagia.

Ainun..
Andai bisa, detik – detik itu ingin aku abadikan. Detik berharga dalam hidupku. Aku semakin yakin, tidak akan menyesal menghabiskan waktuku untukmu. Lihatlah, senyummu punya pengaruh yang besar dihidupku.

Ainun..
Kuharap senyum itu akan terus merekah untukku, sekarang, dan  esok.

Ainun..
Aku bahagia..
Dan aku, semakin jatuh padamu sekarang..

Dari Arga untuk Ainun

***

Arga terlarut dalam emosinya. Tanpa sadar senyum juga merekah dibibirnya. Wajah Ainun semakin jelas dalam ingatannya. Masa – masa ia merasakan jatuh hati pada perempuan itu kembali bangkit dari persembunyiannya.

“Arga, kok malah melamun? Kerjaannya bagaimana?” Ibunya berjalan ke arah Arga sambil menepuk pundak anaknya.
“Ahh !! tidak kok Ma. Ini lagi istirahat dulu, capek Ma.” Angannya tentang Ainun tiba – tiba teralihkan dengan kedatangan ibunya.
“Cepat diselesaikan, makan siang sudah menunggu.” Sambil berjalan kembali keluar dari arah gudang.

Memang sudah waktunya makan siang, Arga yang sudah dari pagi tadi merapikan gudang, tak menyadari waktu begitu cepat berlalu. Tapi, hal itu tidak membuatnya menyesal. Karena  kegiatannya membersihkan gudang, ia bisa kembali lagi pada Ainun. Surat – surat itu, ia masukkan lagi kedalam kotak kayu dan kemudian melanjutkan kerjaannya merapikan gudang yang tadi sempat terbengkalai.

Bulan tampak begitu besar malam itu, bulat sempurna. Arga sedang duduk di beranda rumahnya, menikmati secangkir teh hangat. Kotak kayu yang berisi surat –suratnya untuk Ainun, berada dipangkuannya.  “Aku harus menyampaikan surat ini untuknya, tak peduli biarpun ini sudah terlambat. Surat – surat ini untuk dia, jadi telah menjadi haknya untuk tau.” Arga berusaha meyakinkan dirinya. Malam itu, Ia memang berniat untuk menyampaikan surat –suratnya. Tekadnya telah bulat. Tidak peduli lagi hal yang dilakukannya itu sudah terlambat. Surat itu harus sampai di tangan Ainun.

Kotak kayu itu, dibukanya dengan perlahan. Arga kembali meraih salah satu dari tumpukan surat itu, beberapa surat memang tak sempat ia baca tadi siang. Arga mengambil surat yang berada paling bawah pada tumpukan surat itu.

***

Ainun..
Awalnya, kau orang yang sangat asing bagiku. Tapi sekarang, kau telah menjadi bagian dari diriku. Menjadi hariku, memenuhi semesta pikirku, dan juga hatiku. Selama ini, aku memang tak pernah berani mengatakannya padamu. Tapi melalui suratku yang terakhir ini, aku ingin mengungkap semuanya tentang perasaanku padamu.

Ainun..
Aku mencintaimu, dan cinta ini semakin hari semakin dalam padamu. Kata itu, mungkin bisa menggambarkan perasaanku. Cinta memang tak bisa ditebak datangnya, tak bisa diterka.

Ainun..
Jangan tanya kenapa. Aku sendiri tidak tahu. Aku hanya seorang yang menjalankan takdir. Hanya seorang yang dituntun cinta. Dan cinta itu menuntunku kepadamu. Aku lemah dihadapannya. Sangat lemah.

Ainun..
Apakah kau merasakan hal yang sama? Jika boleh ku utarakan harapku. Aku hanya ingin terus berada di dekatmu. Bersama menjalani hari. Menjadi sepasang kekasih, dan saling menyempurna.

Ainun..
Aku mencintaimu..
Dan hanya mencintaimu..

Dari Arga untuk Ainun

***

Setelah membaca surat itu, Arga semakin membulatkan tekadnya untuk menyampaikannya kepada Ainun. Dirapikannya surat – surat itu, dan memasukkanya kembali dalam kotak kayu. Arga segera bergegas ke kamarnya, menyiapkan diri untuk mengantarkannya kepada Ainun.

“Arga, mau kemana malam – malam begini?” Tanya ibunya melihat Arga yang kelihatan terburu – buru.
“Ke rumah teman Ma, sebentar kok. Doakan yah Ma?” Katanya sambil berjalan keluar rumah.
“Doakan? Untuk apa?” Ibunya dengan raut wajah yang bingung.

Arga masih di atas kendaraanya. Padahal ia telah beberapa menit yang lalu telah sampai dirumah Ainun. Keberanian yang ia kumpulkan sebelum berangkat tadi, dipukul telak oleh degup jantung yang semakin cepat. Jatuhlah Arga kembali pada ketidakberaniannya menyampaikan surat – surat itu. Arga berusaha melawan, meyakinkan kembali dirinya, bahwa surat ini harus segera tersampaikan, ia tidak ingin seperti yang lalu.

Arga kemudian turun dari kendaraannya. Melangkah ke arah rumah Ainun, ia kembali pada keyakinannya. Diketuklah pintu rumah Ainun. Menunggu dibukakan pintu, dengan tubuh yang gemetaran, berkeringat.

Pintu terbuka, dan tak disangka, yang membukakan tak lain adalah Ainun sendiri. Perempuan yang surat – suratnya selama ini ia alamatkan, perempuan yang telah membuatnya jatuh pada genggaman cinta.

“Ehh, Arga.. Ada apa, kok datangnya malam – malam seperti ini?” Tegur Ainun dengan senyum yang merekah dibibirnya, walaupun raut wajah kaget tergambar jelas di wajahnya.
“Suaramu, tidak berubah yah? Dan senyummu tetap manis seperti dulu.” Jawabnya dengan memandang wajah Ainun. Entah apa dipikirannya malah menjawab pertanyaan Ainun seperti itu.
“Aku, Cuma sebentar kok. Hanya mau memberikan ini.” sambung Arga, kemudian menyodorkan sebuah kotak kayu kepada Ainun.
“Hah? Sebuah kotak kayu? Ini untuk apa?” Tanya Ainun yang kebingungan.
“Nanti tahu sendiri kok. Aku pulang dulu yah?” Arga meminta diri untuk segera pulang, sambil tersenyum, ia pergi dengan meninggalkan Ainun dengan wajah yang bertanya – tanya.

Arga, memacu kendaraan pulang ke rumahnya, walaupun kepalanya disesaki banyak pertanyaan tentang kejadian tadi. Apa yang terjadi selanjutnya? Bagaimana jika Ainun marah, risih, atau malah sebaliknya. Ia ternyata selama ini punya perasaan yang sama denganku. Ahh, yang jelasnya surat – surat itu telah tersampaikan. Pertanyaan itu, terus – menerus berkeliaran di kepalanya hingga ia akhirnya sampai rumah.

***

“Setiap orang muda pasti teringat cinta pertamanya dan mencoba menangkap kembali hari-hari asing itu, yang kenangannya mengubah perasaan direlung hatinya dan membuatnya begitu bahagia di sebalik  kepahitan yang penuh misteri.”



(Oleh: kolongbumiku, 4 – 5 Januari, 2014)


Comments

Popular posts from this blog

kita, dua orang yang sedang bicara dalam diam..

Ketika Senja Tak Lagi Sama..

Unta