Unta



Pepatah arab mengatakan bahwa jiwa berjalan dengan kecepatan seekor unta. Sementara kita terus saja padat dengan segala akitivitas sehari hari, jiwa kita, sang singgasana hati mengekor dengan nostalgik di belakang, terbebani berat memori. 

Kalau tiap urusan cinta menambah sepotong beban pada muatan sang unta, maka kita bisa memprediksi bahwa jiwa akan melambat sesuai dengan signifikansi beban cinta. Bila akhirnya sang binatang bisa mengabaikan dan melumat semua kenangannya, maka ia nyaris membunuh untanya.

Aku sempat punya keinginan untuk menghabiskan waktuku bersama kenangan – kenanganku. Tenggelam di dalamnya. Aku rela ditarik pusaran waktu yang lalu dan mendekam disana, selamanya. Melupakan masa kekinian. Karena masa kini tidak punya apa – apa untukku, masa yang lalu jadi satu – satunya tempat yang bisa ku tinggali. Apa guna masa kini jika telah kehilangan diri kita? Esensi dari diri kita lenyap?

Aku sering berhalusinasi bahwa perpisahan itu tak pernah terjadi, dan kami masih bersama. Seakan aku bisa memanggilnya kapan saja, menyarankan sebuah buku untuk dibaca, atau sekedar berdiskusi tentang perilaku manusia. Aku memilih untuk mengabaikan bahwa dia telah memutuskan untuk meninggalkan. Sang benak akan beralih dari keadaan nyata ke dalam fantasi hari – hari penuh suka yang nyaman, cinta, dan tawa.

Lalu, tiba – tiba, sesuatu akan melemparku, menjatuhkanku, membantingku dengan keras ke dalam masa kini tanpa dia. Ketika aku sedang berjalan di sebuah tempat yang pernah menjadi tempat menghabiskan waktu berdua, dengan seluruh rasa sakit dari kesadaran pertama kali bahwa tempat itu tidak lagi menjadi tempat menghabiskan waktuku berdua. Dan kesadaran itu seperti sebuah tikaman tajam ke jantung, sebuah pengingat tak tertahankan bahwa dia telah pergi.

Sulitnya melupakan dia, makin ditambah oleh begitu banyakanya waktu yang telah ku habiskan bersama dan yang masih menyiratkan dia. Dalam keadaan sendirian di kamar, telepon genggamku berdering dan kami menghabiskan hingga berjam – jam hanya membicarakan sebuah film yang baru saja ditontonnya, ataukah berdiskusi tentang sebuah buku yang katanya sangat menginspirasi. Dan akhirnya sampai pada permainan saling mengalah siapa yang harus menutup telepon duluan.  Ataukah saat berjalan di taman dan memulai sebuah permainan menghitung bunga yang berwarna biru, dan walaupun dia bisa dikatakan curang dan menang, aku tetap saja tidak memperdulikannya. Di malam yang lain, kami bisa saja bermain sambung – menyambung kata, tapi kali ini aku yang menang. Kami memang tahu bagaimana cara membahagiakan.

Namun, dengan tak terelakkan, aku mulai lupa. Setelah beberapa bulan setelah berpisah dengannya. Karena tempat yang biasa kita habiskan bersama telah kehilangan nyeri, kehilangan tajam tikamannya saat aku lalui. Aku sadar bahwa aku tidak langsung berpikir tentang dia saat melewati tempat itu. Dia kini hanya menjadi bagian dari sejarah. Namun rasa bersalah mengiringi pelupaanku, bukan karena ketiadaan lagi yang menyakitiku, tapi abaiku yang makin besar akan hal itu. Karena menurut Alain De Botton, “Melupa adalah tanda mata dari kematian, kepergian, dan ketidaksetiaan pada hal yang kamu gengam begitu erat di satu waktu”.

Sekarang yang terjadi adalah adanya penaklukan ulang terhadap diri secara bertahap. Kebiasaan – kebiasaan baru diciptakan dan sebuah diri tanpa dia dibangun. Diriku sudah terlalu lama ditempa dengan ke-kita-an, yang mendorongku untuk menjadi ke-aku-an. Penciptaan ulang diriku sepenuhnya. 

Perlu waktu lama untuk ratusan akitivitas yang aku lakukan untuk membuat kebersamaanku memudar. Aku harus berjalan beberapa kali di taman sebelum aku bisa lupa bahwa di taman itu bukan hanya tempat menghitung bungan berwarna biru, tapi taman yang juga memiliki bunga berwarna merah, ungu, dan putih. Aku harus menghabiskan malam sendirianku di kamar dengan menelepon sahabat – sahabatku. Dan berbagai akitivitas lain yang ku lakukan yang perlahan akan membuatku lupa.

Kehidupanku dengan dia seperti satu balok es yang perlahan meleleh sembari aku membawanya sepanjang masa kini. Tetapi tetap akan meninggalkan bekas. Ada kenangan yang memang tak bisa terlupakan. 

Sang unta makin ringan dan ringan sembari ia berjalan melintasi waktu. Ia terus mengibaskan kenangan dan foto lepas dari punggungnya, menghamburkan sepanjang permukaan gurun dan mebiarkan angin menguburnya dalam pasir, dan perlahan, sang unta jadi begitu ringan sampai ia bisa menderap bahkan berlari dengan cara yang aneh. Sampai suatu hari dalam sebuah oase kecil yang menyebut dirinya masa kini, sang makhluk kelelahan itu akhirnya berhasil mengejar sisa diriku.

Comments

Popular posts from this blog

kita, dua orang yang sedang bicara dalam diam..

Ketika Senja Tak Lagi Sama..