Suatu Sore di Bulan Desember
Suatu sore di
bulan Desember, dan hujan sedang lebat. Seorang lelaki muda di bawah sebuah
pohon hujan yang rimbun, di pinggir sebuah jalan setapak, sedang berteduh. Ia
duduk termenung, menerawang. Ia tak tahu, Kenapa hujan menuntunnya untuk selalu
merenung? kenapa hujan selalu membuatnya menerawang? Kenapa hujan selalu
menghadirkan kenangan? Ia melayang – layang dalam semesta pikirnya.
Hujan semakin
lebat, lelaki muda itu belum beranjak dari bawah pohon hujan tempatnya berteduh
di pinggir sebuah jalan setapak. Di benaknya, begitu banyak hal yang menguras
energinya untuk berpikir, merenung. Semakin tenggelam dalam renungan tetes –
tetes hujan. Menghadirkan kenangan. Tapi entah mengapa, yang lebih banyak
menerima porsi di kepalanya hanya tentang seorang perempuan, yang dia sendiri
tidak tahu sejak kapan perempuan itu telah mendekam disana. Perempuan yang
pertama kali dilihatnya beberapa bulan yang
lalu, diwaktu sore dan setapak yang sama. Ia sengaja memiih tempat
berteduh pada sebuah pohon hujan yang di pinggir sebuah jalan setapak itu.
Karena jalan setapak itu, juga adalah jalan yang di sering dilalui oleh
perempuannya ketika ia ingin pulang. Dulu, waktu sore, tapi tidak sedang hujan
lebat. Mereka sering berpapasan di jalan itu. Hanya berpapasan. Dan hingga
beberapa puluh sore lagi seperti itu. Jadi dia tahu benar tentang perempuan dan
jalan setapak.
Sambil
menyandarkan tubuhnya pada batang pohon hujan tempatnya berteduh, pikirannya masih
tetap menerawang, membayangkan sosok perempuan yang terus mengendap pada
semesta pikirnya. Layaknya sebuah pemandangan di pegunungan; bukit, lereng,
lembah, telaga, pepohonan yang teduh, udara yang sejuk, matahari yang bersinar,
air terjun yang segar, anak sungai yang mengalir, kicauan burung, angin yang
menerpa dedaunan dengan lembut mencipta komposisi irama yang harmonis. Begitulah,
lelaki muda itu menggambarkan sosok perempuan yang telah dikaguminya entah
sejak kapan itu berawal.
Disertai guyuran
hujan yang semakin lebat. Ia berharap – harap cemas, dan membuat skenario
sendiri dibenaknya. “Andai perempuan itu
tiba – tiba lewat ,dan akibat hujan yang semakin deras harus memaksanya berteduh
pada pohon hujan yang sama. Aku akan sangat berterimkasih pada hujan, pada
pohon hujan yang menjadikan kita satu dalam payungnya.” Seperti itulah
harapan dari scenario yang ia buat. Karena Ia tahu, perempuan yang sering memenuhi
pikirannya itu belum pulang. Sekali lagi ia berharap disertai gumaman “semoga saja”.
Hingga hari
semakin sore, dan hujan masih lebat. Dan pohon hujan tempatnya berteduh itu tak
bisa lagi melindunginya dari tetes – tetes yang ramai, yang sesekali tetesnya
jatuh pada tubuh lelaki itu. Membasahi kepalanya yang isinya di sesaki sosok
perempuannya, mengalir dari ubun – ubun hingga ke bibirnya. Walapun agak
sedikit kuyup dan tak bisa lagi dikatakan berteduh, ia tetap berada di bawah
pohon hujan dengan harap yang semakin besar. Menunggu.
“Oh, panorama alam pegununganku, dimanakah kau? Inikan setapak yang
sering kau lalui? Dan.. Payungku terlalu besar untuk aku tempati sendiri.” Katanya.
Disertai suara lirih dan tak hentinya kalimat itu terucap.
Dalam riuhnya
suara hujan. Matanya tak pernah luput dari jalan setapak itu. Tapi tak ada
tanda – tanda kedatangan perempuan yang ditunggunya.
“Akahkah ia datang?” gumamnya.
Hingga tahta
kini berada di genggaman malam. Perempuan, yang sore – sore sebelumya sering ia
temui di setapak itu, tak kunjung datang. Layaknya bukit yang tergerus hujan,
Harapnya kini bagaikan longsoran bebatuan jatuh dari ketinggian, menerpa
pepohonan yang ada di kaki bukit, patah.
Akhirnya, tubuh
yang bersandar pada batang pohon hujan itu, perlahan berdiri dan kemudian
mengambil langkah awal. Meninggalkan payung tempatnya berteduh tanpa sedikitpun
menoleh ke arahnya. Dengan tubuh yang semakin kuyup, ia menapaki jalan dan
menerobos hujan dan pulang. Dalam hatinya iya bergumam.
“Sore ini, panorama alam pegununganku sedang tertutup kabut.”
“Mungkin sore ini, ia lewat jalan setapak yang lain.”
“Tapi, Semoga esok ia lewat setapak ini.”
Pada suatu sore di bulan Desember
dan Hujan sedang lebat – lebatnya. Dan lelaki muda itu, pulang tanpa sekalipun menoleh.
Comments
Post a Comment