KALA SENJA
Senja
itu. Bumi, sedang duduk di kursi sebuah taman dekat pantai sambil menikmati
pemandangan tenggelamnya matahari. Bumi memang suka saat senja. Di temani lagu
“Nyayian Semesta” milik band
beraliran folk asal bali “Dialog Dini Hari”, yang tershuffle pada playlistnya, dan segelas
kopi hangat yang tadi dipesannya pada warung kopi dekat taman. Angannya kembali
menerawang rangkaian kejadian beberapa bulan yang lalu, tentang seorang
perempuan bernama Yuna.
***
3
bulan yang lalu..
Yuna,
yang sudah sejak 12 bulan yang lalu berbeda kota dengan Bumi, datang dengan
membawa urusan kerjaan. Di sela – sela kesibukannya, ia mencari waktu luang untuk bertemu kekasihnya.
Waktu itu, malam minggu. Seperti lazimnya
pasangan kekasih, mereka berdua sedang kencan di sebuah restoran cepat saji, di
kota Bumi tinggal. Saat itu Bumi mengenakan kemeja berwarna hitam, di padu
celana jeans dengan warna yang
senada. Sedangkan Yuna, dengan pakaian yang berwarna biru muda.
Setelah
mereka berdua menghabiskan makanannya. Bumi dengan nada yang berat, memulai
pembicaraan. Pembicaraan yang seharusnya menyenangkan, sebab sepasang kekasih
lama tak bertemu. Perbincangan yang seharusnya melahirkan senyum, kini terjadi
sebaliknya.
“Apakah
kita masih merasa baik – baik saja?” tanya Bumi kepada Yuna yang sedang
menikmati minumannya.
“Maksud
kamu?” Yuna malah menjawab pertanyaan Bumi dengan sebuah pertanyaan.
“Begini,
beberapa hari ini aku merasa bahwa hubungan kita ini semakin hambar. Jarak terlalu tangguh. Kita telah begitu saling
memaksa. Harus ada yang memulai.” Jelas Bumi.
“Aku
tahu maksudmu!! Jadi, malam ini adalah kencan terakhir kita?, tak ku sangka
akan berakhir dengan seperti ini.” Kata Yuna, dengan kedua tangan yang menutupi
wajahnya.
Pembicaraan
sempat terhenti beberapa saat, mereka larut dalam lamunan masing – masing.
Wajah mereka sudah tidak lagi saling menatap. Bumi, menatap jalan yang sedang
ramai oleh kendaraan lalu - lalang,
persis semesta pikirnya yang disesaki oleh begitu banyak pertanyaan tentang
hubungannya dengan Yuna. Sedang Yuna, menatap sebuah bunga di seberang jalan,
di halaman rumah kosong yang luar biasa megahnya milik seorang konglomerat.
Bunga itu, kelihatannya telah layu karena jarang disiram pemiliknya.
Yuna, dengan nada yang
lirih, kemudian mulai mencoba mencairkan kebekuan mereka. Walaupun keadaan
tidak akan secair yang mereka harapkan.
“Jujur,
aku juga telah merasakan hal yang sama. Hari – hari belakangan ini, semua
terasa berat. Kita telah jauh, kau dengan kesibukanmu kuliah dan aku juga dengan
kerjaanku. Dan jarak, terlalu kuat untuk kita taklukkan.” Sambil mengembalikan
tatapannya ke arah Bumi. Tapi dia tidak menanggapi.
“Kekuatan
kita memang tak mampu menaklukkan jarak. Takdir telah menggoreskan penanya pada
lembaran kita. Bukankah setiap awal memiliki akhir? Aku rasa, kita telah
sepakat untuk mengakhiri hubungan ini.” Bumi masih belum menatap Yuna.
“Jika
ini memang jalan yang terbaik. ” kata Yuna dengan air muka yang sendu.
Tak ada lagi percakapan
malam itu, saat mereka keluar restoran dan pulang ke tempat masing - masing.
Akhir dari perbincangan mereka telah menjadi akhir dari hubungan mereka. Kisah
yang telah lama dia cipta, rumah yang mereka bangun kini diterpa angin,
melayang dan hilang.
”Ketika
suatu hubungan sudah tidak lagi dilandasi dengan keikhlasan, sudahilah. Karena
saat suatu hubungan telah dipaksakan, saat itulah ia telah mati.”
***
6
bulan yang lalu..
Siang
itu, Bumi sedang berada di kampusnya dan sebentar lagi akan masuk kelas saat handphone yang di sakunya berdering.
“Halo”
Bumi meraih handphone dari sakunya
dan menempelkan pada telinganya.
“Halo,
kamu di mana?” tanyanya dengan suara yang menekan.
“Di
kampus, lagi nunggu dosen. Kok
suaranya seperti itu?” Bumi mencoba bertanya.
“Saya
salah lagi?” sambungnya.
“Semalam
kamu kemana? SMSku nggak dibalas,
telepon beberapa kali juga nggak diangkat?
Kamu lagi sama siapa?” Yuna menyerang dengan banyak anah panah pertanyaan.
“Na,
Dosennya udah datang, nanti aku
telpon balik yah?.” Sambil menutup
telepon dan berlari ke arah kelas.
“Buuummm….”
Yuna tidak sempat melanjutkan.
Malam
itu, Bumi yang sedang mengerjakan tugas akhirnya. Karena kesibukan kampusnya,
ia baru memiliki kesempatan untuk mengerjakannya. Tiba – tiba teringat akan
janjinya siang tadi, bahwa akan menelepon Yuna. Di ambilnya handphone yang dari tadi di chargenya dan segera menelepon Yuna.
“Halo”
terdengar suara Yuna agak samar karena suara – suara gelak tawa yang terlalu di
sekitarnya.
“Halo,
lagi dimana?” Tanya Bumi dengan suara yang agak keras, takut Yuna tidak
mendengar suaranya.
“Lagi
di pesta ulang tahun teman. Yuli lagi ulang tahun, kamu tau Yuli kan? Itu,
teman sekelasku dulu waktu SMA.” Yuna menjelaskan. Dari belakang terdengar
suara seorang lelaki sedang bertanya kepada Yuna perihal siapa yang sedang
meneleponnya.
“Oh, sampaikan selamatku yah. Itu suara
siapa?” Bumi mencoba memastikan suara lelaki yang berbisik itu.
“Itu
suara Andi, teman SMA kamu dulu.”
“Andi,
mantan pacarmu? yang sampai sekarang, masih berharap padamu itu? dan setauku Ia
kan sedang ada di Amerika.” Bumi sekali lagi mencoba memastikan, disertai rasa
curiga yang mendalam, karena Bumi tahu betul gelagat Andi.
“Iya,
kebetulan dia sedang liburan, katanya dia sedang tidak ada kegiatan akhir –
akhir ini, jadi aku ajak saja ke acara ulang tahun Yuli.” Jawab Yuna.
“Tanpa
sepengetahuanku, kamu ajak dia? Tidak seperti biasanya.” kecurigaan Bumi semakin jelas.
“Kamu
saja yang sibuk, tidak ada waktu buat aku. Bagaimana mau cerita.” Yuna dengan
nada yang agak ketus.
Pertengkaran
tentang salah – meyalahkan tidak dapat terhindarkan. Tanpa pikir panjang, kali
ini Yuna menutup telepon duluan. Bumi, yang sedang terbawa emosi tidak lagi
melanjutkan tugasnya. Ia malah melenggang keluar rumahnya dan menghilang tanpa
jejak.
“Pohon
cinta yang ditanam dengan siraman air kepercayaan, akan tumbuh hingga menyentuh
langit. Dan cemburu adalah hal yang wajar bagi sepasang kekasih, tapi ketika
berlebihan? Bukankah yang berlebihan itu tidak baik?”
***
12
bulan yang lalu..
Waktu
itu, matahari sedang terik – teriknya. Bumi telah selesai kuliah dan segera
meninggalkan kelasnya. Hari itu, ia berniat menemui kekasihnya, Yuna yang hari
itu sedang mengadakan syukuran kelulusan dirumahnya karena telah menyelesaikan pendidikan Diploma
III di sebuah perguruan tinggi Kesehatan. Dengan memacu kendaraan roda duanya,
ia akhirnya sampai di rumah Yuna dengan keringat yang bercucuran.
Dari
beranda rumah, terlihat Yuna dengan masih mengenakan pakaian lengkap seorang
Wisudawati sedang berbincang – bincang dengan rekannya. Melihat kedatangan
Bumi, ia melangkah pelan mendekati. Langkahnya sangat hati – hati, mungkin
karena sepatu hak tinggi yang ia kenakan.
“Sudah
lama sayang?” Sapa Yuna dengan raut wajah kegembiraan. Bukan saja karena
kelulusannya, tapi karena dihari itu, kekasihnya juga datang merayakan
kebahagiaan bersamanya.
“Baru
sampai kok. Ramai yah?” Bumi dengan senyum termanisnya menjawab walaupun dengan
keringat masih membasahi wajahnya akibat perjalanan yang harus ditempuh dari
Kampus tempat ia kuliah ke rumah Yuna tidak dekat.
“Teman
– teman baru pada datang soalnya.” Jawab Yuna sambil meraih tangan Bumi, tanda
agar ia segera bergabung bersama para
tamunya.
Senja telah berkunjung, tamu – tamu yang dari
tadi berdatangan satu persatu telah pulang dan tak lupa memberi selamat akan
kelulusan Yuna. Menyadari hanya tersisa mereka berdua, dimulailah perbincangan
serius tentang hubungan mereka kedepannya.
“Aku
takut kita tidak dapat melalui ini semua. Kamu tau kan, setalah kelulusan ini,
orang tuaku menyarankan agar aku kembali ke kotaku, mencari pekerjaan disana,
mengabdikan ilmu yang aku dapat disana. Bumi, aku takut.” Yuna merebahkan
kepalanya di pundak Bumi, dengan raut wajah yang khawatir.
“Selama
kita masih bisa saling menjaga hati kita, selama kita masih saling percaya pada
kekuatan cinta kita, jarak sekalipun tak mampu melawan. Aku percaya itu.” Bumi
meraih wajah Yuna yang sedang bersandar di pundaknya dan ditatapnya dalam –
dalam mencoba meyakinkan. Walaupun sebenarnya Ia juga sedang takut akan
kekhawatiran Yuna tentang jarak.
“Bumi,
telah banyak pasangan kekasih yang tak mampu melalui hal yang seperti ini. Aku
tak mau kita seperti mereka yang tunduk pada jarak.” Suara Yuna semakin
menggambarkan ketakutan.
“Sayang..
sayangku, tatap mataku. Kita ini satu, percayalah. Adakah jarak dalam satu?”
Bumi berusaha meredam ketakutan Yuna dan segera mencuim keningnya. Yuna
membalas dengan pelukan.
“Bukankah
cinta itu tak berjarak. Karena jarak tidak bisa mengalahkan kekuatan cinta.
Cinta ada di hati sepasang kekasih dan akan selamanya ada disana. Dan ketika
mulai merasa berjarak, masihkah ia dinamakan cinta?”
***
15
Bulan yang lalu..
Saat
pagi sedang muda – mudanya. Seperti biasa, Bumi telah selesai merapikan diri
untuk segera berangkat ke kampus. Pagi ini, ia ada kuliah pagi dan ingin berada
di kelas lebih awal. Karena dosen yang mengajar kali ini,terkenal killer di kalangan mahasiswa, tidak
mengenal toleransi dalam keterlambatan.
Tapi
sebelum Bumi berangkat ke kampus. Ia, terlebih dahulu harus menjemput Yuna di
rumahnya, dan kemudian mengantarnya ke kampus. Justru itulah ia bangun lebih
pagi, karena jarak dari tempat tinggalnya ke tempat Yuna lumayan jauh.
“Sayang,
kamu sudah siap kan? Aku sudah ada di depan rumahmu sekarang.” Bunyi pesan
singkat yang dikirim Bumi kepada Yuna.
Tak
beberapa lama, Yuna muncul dari balik pintu rumahnya. Dengan senyuman yang menghiasi
wajahnya, ia berlari kecil ke arah Bumi.
“Maaf
sayang agak lama, maklumlah perempuan.” Diselingi ketawa kecil, Yuna coba
membujuk.
“Dandan
kok kayak orang lagi pengen ke pesta saja.” Bumi menjahili
dan Yuna membalas dengan sedikit cubitan pada dipinggangnya.
“Ini
kan juga buat kamu, sayang.” Yuna membela diri.
Dan
kendaraan melaju menyusuri jalan, membawa sepasang kekasih dengan senyuman
kebahagiaan di pagi hari.
Kala
itu, sehabis makan siang bersama rekan – rekannya. Handphone Bumi berdering tanda pesan singkat.
“Bumiku
sayang, kita jalan yah? Ada film bagus. Terus, sorenya kita ke pantai, lihat
senja. Jemput di kampus saja yah. Love u.”
pesan singkat dari Yuna dibacanya dengan seksama.
“Siap,
laksanakan !! Pesawat segera lepas landas.” Bumi membalas dengan candaan
khasnya. Dan segera Bumi pamit pada teman – temannya, dan berjalan kea rah parkiran.
Yuna
sedang berteduh di sebuah pohon depan kampusnya saat Bumi datang menjemputnya. Dengan
senyuman manis ia menyambut Bumi dan segera dibalas dengan senyuman yang tak
kalah manisnya.
“Kita
nontonnya dimana?” Tanya bumi sambil menyalakan sepeda motornya.
“Di
tempat yang biasa saja, kan jaraknya juga tak terlalu jauh dari pantai.” Jawab
Yuna.
Sesampainya
di tempat itu, Bumi segera memesan tiket untuk mereka berdua. Kebetulan jam
tayang Film itu tidak lama lagi, jadi tanpa menunggu lama mereka pun segera
menikmati tontonannya.
Sore
hari, setelah mereka berdua menonton Film, pasangan kekasih ini melanjutkan rencana
jalannya. Pantai yang tidak jaraknya tidak jauh dari tempat ia nonton tadi
menjadi tujuan. Saat itu senja masih muda, saat mereka sampai di pantai. Sambil
saling menggenggam tangan, mereka berjalan menyusuri bibir pantai dengan kaki –
kaki yang telanjang, merasakan air laut yang dari tadi menghempas kaki mereka. Bermain,
kejar – kejaran, saling menjahili seperti anak kecil.
Saat
penghujung senja, ketika mereka sedang diatas sebuah batang pohon yang
terdampar. Sambil menikmati Es kelapa
muda yang mereka pesan tak jauh dari tempat mereka duduk, mencoba menaklukkan
dahaga karena bermain tadi, seraya pandangan mereka tak hentinya menatap
mtahari yang sebentar lagi kembali keperaduannya. Tiba – tiba dengan suara yang
sedikit berbisik Yuna mengucap.
“Aku
sayang kamu, aku tak mau kehilangan kamu, aku ingin kita selamanya seperti ini.”
diakhiri dengan kecupan pada pipi Bumi.
Bumi
yang dari tadi hanya memperhatikan matahari, tersentak dengan bibir yang
mendarat pada pipinya. Sambil meninggalkan tatapannya pada matahari dan
memusatkan pandangannya pada wajah Yuna.
“Aku
juga sayang kamu.” Kata Bumi. Dan sepasang kekasih kala senja, bercerita
tentang kisahnya melalui sebuah kecupan.
Berpasangan
engkau telah diciptakan, dan selamanya engkau akan berpasangan
Bergandengan tanganlah engkau
Hingga sayap-sayap panjang nan lebar lebur dalam nyala
Dalam ikatan agung menyatu kalian
Bergandengan tanganlah engkau
Hingga sayap-sayap panjang nan lebar lebur dalam nyala
Dalam ikatan agung menyatu kalian
(Kahlil
Gibran)
***
24
bulan yang lalu...
Waktu
itu, Bumi sedang duduk di beranda rumahnya dan dengan handphone menempel di telinga kanannya, sesekali tertawa.
“Kamu
itu, beraninya lewat telepon saja.” Terdengar suara perempuan dari balik benda
canggih yang menempel di telinganya.
Perempuan
itu bernama Yuna. Perempuan yang dikenalnya 2 bulan yang lalu lewat seorang
teman ketika acara reunian SMA.
“Serius,
aku merasa ada yang berbeda dengan kita, kedekatan kita.” Ungkap Bumi.
“Nanti
siang, aku jemput yah? Kita makan – makan. Sekalian aku mau bicara sesuatu.”
Bumi menambahkan.
Perempuan
itu, dengan suaranya yang bersemangat menjawab.
“Asiiiiik,
makaaaan. Tapi, tumben baik, pasti ada maunya.” Yuna mencoba iseng.
“Ahh,
ada – ada saja.” Bumi mengalihkan.
“Ingat
!! nanti siang yah?” Ia memastikan.
“Oke”
Kata Yuna.
Siang
itu, sedang mendung. Tanda sebentar lagi hujan. Tapi cuaca tak menyurutkan niat
Bumi untuk mengajak Yuna. Segera ia memacu sepeda motornya ke rumah perempuan
itu. Yuna yang sebelumnya telah dikirimi pesan singkat agar segera bersiap –
siap itu, telah berada di beranda rumahnya menunggu kedatangan Bumi.
Yuna
saat itu, memakai baju berwarna biru, di padu rok warna biru gelap. Ia sangat
indah dengan balutan busana seperti itu, ditambah senyum yang menghiasi
wajahnya yang ranum. Senyum yang membuat Bumi bergetar, saat pertama kali
melihatnya. Wajah yang membuat Bumi tenggelam dalam lautan perasaan. Tak
hentinya Bumi menatap perempuan yang berada di depannya itu.
“Hushh,
Memangnya saya setan apa.!! Menatapnya kok
seperti itu.” Tegur Yuna.
“Mana
ada setan cantiknya seperti kamu.” Kata Bumi.
“Ayo,
kita jalan.!!” Dengan wajah memerah muda, Yuna menyarankan agar segera
berangkat, karena mendung semakin tebal.
Bumi,
sengaja mencari tempat makan untuk mereka berdua di daerah pantai. Mereka
berdua memang suka laut.
“Na, pesan apa?” Tanya Bumi kepada Yuna yang
sedang asyik melihat pemandangan pantai.
“Terserah
kamu saja, saya ngikut saja.” Jawab Yuna
tanpa memalingkan pandangannya dari pemadangan pantai.
Bumi
segera memesan makanan untuk mereka berdua. Tak lama, setelah makanan yang
mereka santap telah habis. Bumi membuka pembicaraan.
“Yuk,
ke pantai, pasti seru.” Ajak Bumi dan ajakan itu segera dikabulkan, karena
dasarnya Yuna memang suka pantai.
Sambil melangkah ke arah pantai, matahari telah
berada dalam pelukan ufuk. Senja telah menampakkan diri. walaupun agak tertutup
awan, tapi masih nampak oleh pandangan mereka berdua. Bumi mengajak duduk di
tepi pantai sambil menikmati pemandangan.
Bumi pun memulai
pembicaraan.
“Na,
aku tak tahu sejak kapan ini berawal. Tapi aku tahu untuk siapa perasaan ini.”
dengan gugup Bumi mengungkapkan.
“Maksud
kamu? Perasaan apa?.” Yuna dengan suaranya yang lembut mencoba bertanya.
“Semenjak
kedekatan kita beberapa bulan ini, aku merasa ada yang berbeda dengan diriku,
hingga saat ini saja perbedaan itu masih aku rasakan. Degup jantung ini, setiap
berada didekatmu, mendengar suaramu, meilhat wajahmu. Sampai aku sadar aku
telah jatuh cinta padamu.Yuna, aku benar – benar telah jatuh padamu.” Sambil menatap
Yuna dan menahan kegugupannya.
“Bumi,
kalimat itu yang aku tunggu selama ini keluar dari mulutmu. Sejak awal kita
bertemu, perasaan ini telah tumbuh, semakin membesar bersama hari. Bumi, aku
juga merasakan hal yang sama seperti yang kau rasakan. Hanya saja aku tidak
kuasa mengungkap.”
“Maukah
kau…” tak sempat Bumi menyelesaikan permintaannya.
“Iya,
Bumi. Aku mau kamu di hidupku.”
Senja
itu, matahari telah berakhir dipelukan ufuk, Hujan akhirnya turun. Mencipta tetesan
kecil pada permukaan laut. Tapi Senja itu juga, merupakan awal bagi sepasang
jemari yang menggenggam dan pelukan yang saling menghangatkan. Membahagiakan.
Cinta memang tak bisa diterka, cinta memang tak bisa di tebak.
“Manusia
ibarat sebatang kayu yang terseret arus, dan cinta adalah arus yang mengalir di
sungai kehidupan. Cinta itu, tidak dapat dikendalikan. Manuisalah yang
dikendalikan cinta.
***
(Hasil ke-iseng-an saya 2 hari belakangan ini,
semoga bisa menginspirasi. Maklumilah kalau agak sedikit berantakan, karena
jemariku adalah jemari yang baru tahu bagaimana caranya menulis.)
Comments
Post a Comment